Ntah tanggal berapa aku memulai merangkai kisah ini, awal kisahnya seorang wanita paruh baya yang usianya tak jauh denganku menghampiriku di tempat aku bekerja sekarang, dia memperkenalkan dirinya "Fauziah" dan mengajakku untuk berbincang-bincang, aku tertarik akan busananya yang agamis dan muslimah, aku tertarik akan kepandaianny tentang akidah, aku yang hobi dengan berbagai macam seminar dan diskusi aku merasa tergugah untuk tau lebih jauh tentang akidah dan agamaku sendiri...
Suatu ketika dia datang kembali ke tempat kerjaku namun bukan seorang diri melainkan ber 2 "Asiah", ajakan mereka untuk berteman denganku aku terima dengan terbuka, aku pikir inilah kesempatanku untuk tau tentang universitas di kotaku karena kebetulan mereka-mereka adalah seorang mahasiswa fakultas tarbiyyah.
Untuk yang ke-3 kali nya mereka datang kembali di tempat biasa kami bertemu, awalnya aku cerita-cerita, aku curhat tentang pengalamanku, mereka pun begitu, lambat laun arahnya menjadi tak mengerti, mereka berbicara tentang akidah agama dan aku tanpa curiga apa-apa dengan santai berbicara pada mereka, yang ku ingat mereka bercerita tentang seorang pemimpin dalam agama, aku tak mengerti tiba-tiba muncul seorang lelaki yang aku kira dia adalah seorang pembeli namun ternyata bukan. mereka mengatakan setiap orang harus punya pemimpin atau imam, setiap negara punya pemimpin juga, banyak larangan dan aturan dalam mereka, bahkan hak akupun tak diperbolehkan... singkat cerita aku di suruh membacakan ikrar janji pada ALLOH yang akan di tuntun seorang lelaki tadi yang mungkin mereka anggap adalah seorang pemimpin mereka.. aku tak di izinkan tau lebih jauh namun mereka bilang ikrar ini adalah kartu untuk masuk surga, serajin-rajinnya kita beribadah tanpa di bekali kartu ikrar ini maka gugurlah amlmu didunia. aku tak pernah mendngar hal ini, aku menangis dalam kebimbangan, hatiku mengatakan aku tak boleh, namun otakku mengatakan lanjutkanlah ini adalah kesempatanmu untuk mencari info kuliah agar aku bisa kuliah, mimpi yang selalu aku idam-idamkan, mimpi yang bukan hanya sekedar mimpi, mimpi yang akan aku buktikan kelak.. insyaalloh...
Aku pun mengikuti apa yang mereka ucapkan dengan air mataku yang berlinar deras... aku terhimpit, aku berharap ada seorang pembeli yang akan menghalangiku berikrar, semua nihil akupun tenggelam dalam mereka. sekitar 1 jam mereka pun meninggalkan aku denagn wajah bahagia, ntah bahagia karena aku ikut mereka atau bahagia karena kebodohanku.. aku tak tahu...
setelah kejadian itu aku enggan melakukan aktivitas, aku bagai orang hidup tanpa nyawa, aku bergerak buakn sesuai kehendakku seperti ada yang mengontrolku, aku tak bisa tidur, dalam hatiku beribu penyesalan, aku buntu tak tau arah, yaaa aku ingat Ibu Hilmi, guruku sekaligus bundaku, sekaligus segalanya buatku, mungkin melalui beliau akan memberiku petunjuk. setelah idul fitri aku menemuinya, aku ceritakan apa yang terjadi, maka tersentaklah ibu, ibu melarangku untuk ikut pada mereka. ibu menceritakan tetangganya yang meninggal karena sakit hati oleh anaknya yang mengalami hal yang aku ceritakan tadi. ibu berdoa untukku dan memberiku petunjuk untuk mengucapkan "maaf" pada mereka.
Ke-4 kalinya mereka datang kembali menemuiku, aku takut, tapi aku harus berani menyampaikan amanat ibu hilmi untukku, yaaa betapa payahnya diriku, lagi-lagi aku harus bentrok dengan hbatinku, aku menangis tanpa alasan, apa yang terjadi..??? mereka yang datang dengan jumlah yang banyak, aku gugup, aku takut....
mereka banyak mengatur tentang aku, aku harus memberi imfak 2.5% dari upahku, bayangkan,,bukanlah imfak itu dengan dasar ikhlas bukan karena paksaan... aku gerah.. aku takut...selalu merasa takuttt...
ingin rasanya pada hari itu aku kabur, ingin rasanya aku kembali ke ciamis, kota tentramku, tapi bu hilmi mengajariku, ibu menuntunku, " namanya manusia tiada henti untuk belajar"..
Terlalu banyak pengalaman yang aku lalui, aku tak tahu arahku kemana, aku berdiri di tepi jurang.. aku masih dalam keadaan takut, lelah, pusing, rumet, tapi aku harus maju, air mata ini terlalu sering berurai, kepahitan, penghianatan,terampas hakku, kecewa, hancur, telah aku telan dengan kerasnay jalanku...
Kisah ini hingga saat ini belum berakhir, belum selesai aku menyampaikan kata "maaf" aku masih dalam sendiri dan ketidak berdayaan.." tolonglah aku......."