Ini adalah pengalamanku, pengalaman seorang gadis yang terjerumus dalam pergaulan bebas dengan lawan jenis. Aku adalah seorang gadis yang sebentar lagi menginjak 19 tahun yang baru saja lulus dari Sekolah Menengah Atas Negeri di daerahku.
Ketika kanak-kanak hingga usiaku menginjak 13 tahun aku tinggal bersama nenek dan kakek pihak ibuku serta tumbuh dalam lingkungan yang cukup agamis. Meski aku tidak berjilbab, aku relative taat dalam beribadah dan selalu berusaha munjauhi larangan Alloh SWT. Aku dididik di tengah keluarga yang sangat patuh agama terutama kekak dan nenenkku. Hanya ada satu masalah, yaitu orangtuaku. Semenjak kecil aku tak dalam asuhan mereka, ini membuat aku iri dengan kawan-kawanku yang lain. Kondisi ini membuatku sulit meningkatkan kualitas imanku.
Ketika memasuki Sekolah Menengah Atas, aku pindah asuh bersama nenek dan kakek pihak bapak, disamping di daerah aku kecil daerahnya terbilang terpencil “leuweung” sehingga sekolah-sekolahan yang tersedia hanya tingkat SMP itu pun harus ku tempuh KM 3,5, tambah lagi hidupku bagai tinggal sebatangkara karena nenek dan kakekku telah di panggil Yang Maha Kuasa.
Di daerah baruku yang terbilang ramai alias pinggir kota rada legok dikit, aku tercengang melihat betapa bebasnya pergaulan disana. Laki-laki dan perempuan bercampur tanpa batas, hal yang dianggap tabu/pamali sudah tak terkendali, mereka anggap maksiat adalah hal biasa sudah mempublish. Maka, terjadilah konflik bathin dalam diriku.
Meski kemudian dengan seiring berlalunya waktu, aku justru mulai merasa dekat dan menaruh simpatik pada seorang pemuda, dan ternyata rasa itru berbalas. Akhirnya, kami saling mengungkapkan isi hati pada suatu waktu. Saat itu, demi menjaga harga diri, ku coba memberikan pengertian kepadanya bahwa perasaan semacam ini sebenarnya dilarang oleh agama. Untuk itu, kami pun sepakat menjaga hubungan agar jangan sampai melanggar batas. Salah satu caranya adalah dengan berbicara lewat telpon, meski harus ku lakukan dengan mencari-cari kesempatan saat rumah kosong, atau berpura-pura sedang berbicara dengan teman perempuanku jika kepergok.
Tanpa kami sadari, hubungan lewat telpon itu berkembang menjadi rasa ingin jalan bersama. Kamipun memberanikan diri untuk kelur berduaan, meski tahu bahwa jika laki-laki dan perempuan sengaja pergi berdua ketempat yang sepi, maka yang ketiga adalah setan.
Sedikit demi sedikit, aku mulai melanggar batas. Hingga akhirnya aku merasa tertekan dan berdosa lalu mengambil keputusan yang sangat menyakitkan. Kami putus. Aku menjauhinya dan dia meninggalkan aku. Tapi sebagai akibat, aku malah mengalami shock berat, karena cintaku yang dalam padanya, sebagaimana sebaliknya. Tak hanya itu, aku juga didera rasa takut jika ajalku tiba-tiba menjemput, menghadap Alloh SWT dalam kondisi penuh dosa seperti ini. Apa yang harus aku katakan kepada-Nya?
Hingga suatu hari dalam acara sujud syukur atas kelulusanku dari SMA di mesjid sekolahku. Disana, aku betul-betul dengan khusuk mengikutinya dan tiba-tiba ku rasakan kedekatan itu. Sebuah kedekatan kepada Alloh SWT yang menelusup kedalam sanubari, seperti aliran yang aneh namun nyaman. Kulihat orang-orang disekelilingku merasakan hal yang sama. Aku pun tersadar, ada banyak hal yang mesti aku lakukan dalam hidup ini, dan aku benar-benar menyesali sekian banyak kesalahanku yang telah lalu- namu n aku yakin Alloh Maha Pengampun. Saat itu juga, aku rasakan cinta yang begitu dalam terhadap-Nya.
Sejak kejadian tersebut, aku mulai berusaha sekuat tenaga untuk taat beribadah, dan mempersiapkan diri menyambut ajal. Sesungguhnya, betapa tenang hatiku ketika berada didekat-Nya karena Dia selalu melimpahkan kebaikan-Nya bagi diriku. Dialah Cinta Sejatiku.