Kamis, 19 November 2009

Tetesan mata hati

Terkadang aku suka mengeluh kenapa kehidupanku berbeda dengan kebanyakan orang? Rasanya tak adil ketika melihat oranglain dengan materi yang lebih. Terkadang juga iri ketika melihat mereka berfoya-foya dengan uang mereka untuk bersenang-senang.
kenapa aku tidak seperti mereka, yang tidak perlu berhitung kembali ketika harus menggunakan uangnya..
sedangkan aku?
terkadang aku benci dengan kehidupanku sendiri, yang harus selalu bersabar berharap ada keajaiban datang, berharap mungkin suatu hari keinginan itu bisa terwujud. tapi kapan?karena sampai detik inipun aku masih tetap menjadi seorang pemimpi..." kutipan seseorang.
(' cerita yang penulis tuangkan benar-benar mengingatkan aku yang terus tenggelam dalam mimpi, aku kira, hanya aku yang bernasib demikian, namun kini aku sadar, yang harus aku lakukan adalah bersabar dan berikhtiar sembari berdoa, aku yakin Alloh akan mempertunjukkan keadilan itu, aku harap pembaca ataupun penulis kutipan diatas dapat mengerti maksud aku, aku juga kini sedang berjuang meraih sesuatu yang mereka anggap akulah sang pemimpi, mimpi yang mereka lecehkan dan tanpa menghargai sedikitpun mimpiku *termasuk orangtuaku terkecuali ibuku')

Senin, 09 November 2009

PERCIKAN

Ntah harus ku mulai darimana bercerita kisahku saat ini... aku bahagia, tapi aku merasa rindu kampung halaman saat ku kecil dulu.
Setelah aku lulus dari Sekolah Menengah Atas Negeri 3 Ciamis, dimana kawan-kawanku kesana-kemari sibuk memilah-memilih perguruan tinggi yang akan mereka tuju sementara aku hanya berdiam dikamar tanpa bergerak sedikitpun. yaaa uangku hanya ada 200rb saat itu, aku memaksakan diri untuk membeli formulir pendaftaran ke universitas negeri ternama di Purwokerto namun kawan-kawanku tak mengetahui itu, bahkan aku pernah mendaftarkan online ke universitas islam di yogyakarta.
Aku tak punya uang untuk menggapai semua mimpi yang ku yakini itu bukan mimpi, uangku habis dan aku tak menghiraukan formulir yang telah aku beli, jikalau aku diterima, aku gak akan mungkin dapat menggapainya, orangtuaku tak mengijinkan., mereka menganggap "kuliah hanya buang-buang uang, sementara wanita ujung-ujungnya didapur juga". bahasa itu malah buat aku semangat dan ingin membuktikan bahwa aku tak sama dengan kebanyakan wanita lain, mereka kuliah untuk cari pasangan begitulah yang aku lihat di lapangan.
Aku tak punya kekuatan untuk menentang kedua orangtuaku, karena sejak kecil aku memang penurut, mungkin keberuntungan belum memihak padaku, sekarang aku bekerja di sebuah counter selullar mini sembari online berharap aku temukan titik terang untuk cita-citaku, uang tabunganku tak pernah menetap, sebagian aku kasih pada ibu dan adikku, aku yakin walaupun uang tabunganku sedikit-sedikit terambil untuk ibu dan adikku ini takan menghalangi niatku untuk terus melanjutkan pendidikan kembali.
Hmm...kekasih yang selalu memberi aku dukungan, inilah kekuatan baruku namun terkadang aku sering menangis saat keheningan menyelimuti. cita-citaku masa kecil ingin menjadi seorang bidan atau seorang guru yang memiliki anak didik banyak dan berakhlak baik, mungkinkah aku dapat mengapainya?
akh benar kata bapakku "in itu terlalu tinggi untuk bermimpi"....
Ya Alloh hanya engkaulah yang Maha Mengetahui apa yang hambaMu pikirkan, kuatkanlah aku Ya Alloh, semoga aku dapat menggapai cita-citaku....
untuk sekarang-sekarang ini, ntah strategi apalagi yang harus aku lakukan untuk melangkahnya, aku sudah kehabisan akal, aku bagai sesosok gadis bodoh yang bermimpikan setinggi langit, apa yang aku punya?

Laskar Pelangi OST
oleh: Nidji

mimpi adalah kunci
untuk kita menaklukkan dunia
berlarilah
tanpa lelah sampai engkau
meraihnya

laskar pelangi
takkan terikat waktu
bebaskan mimpimu di angkasa
warnai bintang di jiwa

menarilah dan terus tertawa
walau dunia tak seindah surga
bersyukurlah pada yang kuasa
cinta kita di dunia

selamanya…

cinta kepada hidup
memberikan senyuman abadi
walau hidup kadang tak adil
tapi cinta lengkapi kita

laskar pelangi
takkan terikat waktu
jangan berhenti mewarnai
jutaan mimpi di bumi

menarilah dan terus tertawa
walau dunia tak seindah surga
bersyukurlah pada yang kuasa
cinta kita di dunia

selamanya…

Rabu, 04 November 2009

Cinta sejati seorang gadis

Ini adalah pengalamanku, pengalaman seorang gadis yang terjerumus dalam pergaulan bebas dengan lawan jenis.

Aku adalah seorang gadis yang sebentar lagi menginjak 19 tahun yang baru saja lulus dari Sekolah Menengah Atas Negeri di daerahku.
Ketika kanak-kanak hingga usiaku menginjak 13 tahun aku tinggal bersama nenek dan kakek pihak ibuku serta tumbuh dalam lingkungan yang cukup agamis. Meski aku tidak berjilbab, aku relative taat dalam beribadah dan selalu berusaha munjauhi larangan Alloh SWT. Aku dididik di tengah keluarga yang sangat patuh agama terutama kekak dan nenenkku. Hanya ada satu masalah, yaitu orangtuaku. Semenjak kecil aku tak dalam asuhan mereka, ini membuat aku iri dengan kawan-kawanku yang lain. Kondisi ini membuatku sulit meningkatkan kualitas imanku.
Ketika memasuki Sekolah Menengah Atas, aku pindah asuh bersama nenek dan kakek pihak bapak, disamping di daerah aku kecil daerahnya terbilang terpencil “leuweung” sehingga sekolah-sekolahan yang tersedia hanya tingkat SMP itu pun harus ku tempuh KM 3,5, tambah lagi hidupku bagai tinggal sebatangkara karena nenek dan kakekku telah di panggil Yang Maha Kuasa.
Di daerah baruku yang terbilang ramai alias pinggir kota rada legok dikit, aku tercengang melihat betapa bebasnya pergaulan disana. Laki-laki dan perempuan bercampur tanpa batas, hal yang dianggap tabu/pamali sudah tak terkendali, mereka anggap maksiat adalah hal biasa sudah mempublish. Maka, terjadilah konflik bathin dalam diriku.
Meski kemudian dengan seiring berlalunya waktu, aku justru mulai merasa dekat dan menaruh simpatik pada seorang pemuda, dan ternyata rasa itru berbalas. Akhirnya, kami saling mengungkapkan isi hati pada suatu waktu. Saat itu, demi menjaga harga diri, ku coba memberikan pengertian kepadanya bahwa perasaan semacam ini sebenarnya dilarang oleh agama. Untuk itu, kami pun sepakat menjaga hubungan agar jangan sampai melanggar batas. Salah satu caranya adalah dengan berbicara lewat telpon, meski harus ku lakukan dengan mencari-cari kesempatan saat rumah kosong, atau berpura-pura sedang berbicara dengan teman perempuanku jika kepergok.
Tanpa kami sadari, hubungan lewat telpon itu berkembang menjadi rasa ingin jalan bersama. Kamipun memberanikan diri untuk kelur berduaan, meski tahu bahwa jika laki-laki dan perempuan sengaja pergi berdua ketempat yang sepi, maka yang ketiga adalah setan.
Sedikit demi sedikit, aku mulai melanggar batas. Hingga akhirnya aku merasa tertekan dan berdosa lalu mengambil keputusan yang sangat menyakitkan. Kami putus. Aku menjauhinya dan dia meninggalkan aku. Tapi sebagai akibat, aku malah mengalami shock berat, karena cintaku yang dalam padanya, sebagaimana sebaliknya. Tak hanya itu, aku juga didera rasa takut jika ajalku tiba-tiba menjemput, menghadap Alloh SWT dalam kondisi penuh dosa seperti ini. Apa yang harus aku katakan kepada-Nya?
Hingga suatu hari dalam acara sujud syukur atas kelulusanku dari SMA di mesjid sekolahku. Disana, aku betul-betul dengan khusuk mengikutinya dan tiba-tiba ku rasakan kedekatan itu. Sebuah kedekatan kepada Alloh SWT yang menelusup kedalam sanubari, seperti aliran yang aneh namun nyaman. Kulihat orang-orang disekelilingku merasakan hal yang sama. Aku pun tersadar, ada banyak hal yang mesti aku lakukan dalam hidup ini, dan aku benar-benar menyesali sekian banyak kesalahanku yang telah lalu- namu n aku yakin Alloh Maha Pengampun. Saat itu juga, aku rasakan cinta yang begitu dalam terhadap-Nya.
Sejak kejadian tersebut, aku mulai berusaha sekuat tenaga untuk taat beribadah, dan mempersiapkan diri menyambut ajal. Sesungguhnya, betapa tenang hatiku ketika berada didekat-Nya karena Dia selalu melimpahkan kebaikan-Nya bagi diriku. Dialah Cinta Sejatiku.