Kamis, 19 November 2009

Tetesan mata hati

Terkadang aku suka mengeluh kenapa kehidupanku berbeda dengan kebanyakan orang? Rasanya tak adil ketika melihat oranglain dengan materi yang lebih. Terkadang juga iri ketika melihat mereka berfoya-foya dengan uang mereka untuk bersenang-senang.
kenapa aku tidak seperti mereka, yang tidak perlu berhitung kembali ketika harus menggunakan uangnya..
sedangkan aku?
terkadang aku benci dengan kehidupanku sendiri, yang harus selalu bersabar berharap ada keajaiban datang, berharap mungkin suatu hari keinginan itu bisa terwujud. tapi kapan?karena sampai detik inipun aku masih tetap menjadi seorang pemimpi..." kutipan seseorang.
(' cerita yang penulis tuangkan benar-benar mengingatkan aku yang terus tenggelam dalam mimpi, aku kira, hanya aku yang bernasib demikian, namun kini aku sadar, yang harus aku lakukan adalah bersabar dan berikhtiar sembari berdoa, aku yakin Alloh akan mempertunjukkan keadilan itu, aku harap pembaca ataupun penulis kutipan diatas dapat mengerti maksud aku, aku juga kini sedang berjuang meraih sesuatu yang mereka anggap akulah sang pemimpi, mimpi yang mereka lecehkan dan tanpa menghargai sedikitpun mimpiku *termasuk orangtuaku terkecuali ibuku')

Senin, 09 November 2009

PERCIKAN

Ntah harus ku mulai darimana bercerita kisahku saat ini... aku bahagia, tapi aku merasa rindu kampung halaman saat ku kecil dulu.
Setelah aku lulus dari Sekolah Menengah Atas Negeri 3 Ciamis, dimana kawan-kawanku kesana-kemari sibuk memilah-memilih perguruan tinggi yang akan mereka tuju sementara aku hanya berdiam dikamar tanpa bergerak sedikitpun. yaaa uangku hanya ada 200rb saat itu, aku memaksakan diri untuk membeli formulir pendaftaran ke universitas negeri ternama di Purwokerto namun kawan-kawanku tak mengetahui itu, bahkan aku pernah mendaftarkan online ke universitas islam di yogyakarta.
Aku tak punya uang untuk menggapai semua mimpi yang ku yakini itu bukan mimpi, uangku habis dan aku tak menghiraukan formulir yang telah aku beli, jikalau aku diterima, aku gak akan mungkin dapat menggapainya, orangtuaku tak mengijinkan., mereka menganggap "kuliah hanya buang-buang uang, sementara wanita ujung-ujungnya didapur juga". bahasa itu malah buat aku semangat dan ingin membuktikan bahwa aku tak sama dengan kebanyakan wanita lain, mereka kuliah untuk cari pasangan begitulah yang aku lihat di lapangan.
Aku tak punya kekuatan untuk menentang kedua orangtuaku, karena sejak kecil aku memang penurut, mungkin keberuntungan belum memihak padaku, sekarang aku bekerja di sebuah counter selullar mini sembari online berharap aku temukan titik terang untuk cita-citaku, uang tabunganku tak pernah menetap, sebagian aku kasih pada ibu dan adikku, aku yakin walaupun uang tabunganku sedikit-sedikit terambil untuk ibu dan adikku ini takan menghalangi niatku untuk terus melanjutkan pendidikan kembali.
Hmm...kekasih yang selalu memberi aku dukungan, inilah kekuatan baruku namun terkadang aku sering menangis saat keheningan menyelimuti. cita-citaku masa kecil ingin menjadi seorang bidan atau seorang guru yang memiliki anak didik banyak dan berakhlak baik, mungkinkah aku dapat mengapainya?
akh benar kata bapakku "in itu terlalu tinggi untuk bermimpi"....
Ya Alloh hanya engkaulah yang Maha Mengetahui apa yang hambaMu pikirkan, kuatkanlah aku Ya Alloh, semoga aku dapat menggapai cita-citaku....
untuk sekarang-sekarang ini, ntah strategi apalagi yang harus aku lakukan untuk melangkahnya, aku sudah kehabisan akal, aku bagai sesosok gadis bodoh yang bermimpikan setinggi langit, apa yang aku punya?

Laskar Pelangi OST
oleh: Nidji

mimpi adalah kunci
untuk kita menaklukkan dunia
berlarilah
tanpa lelah sampai engkau
meraihnya

laskar pelangi
takkan terikat waktu
bebaskan mimpimu di angkasa
warnai bintang di jiwa

menarilah dan terus tertawa
walau dunia tak seindah surga
bersyukurlah pada yang kuasa
cinta kita di dunia

selamanya…

cinta kepada hidup
memberikan senyuman abadi
walau hidup kadang tak adil
tapi cinta lengkapi kita

laskar pelangi
takkan terikat waktu
jangan berhenti mewarnai
jutaan mimpi di bumi

menarilah dan terus tertawa
walau dunia tak seindah surga
bersyukurlah pada yang kuasa
cinta kita di dunia

selamanya…

Rabu, 04 November 2009

Cinta sejati seorang gadis

Ini adalah pengalamanku, pengalaman seorang gadis yang terjerumus dalam pergaulan bebas dengan lawan jenis.

Aku adalah seorang gadis yang sebentar lagi menginjak 19 tahun yang baru saja lulus dari Sekolah Menengah Atas Negeri di daerahku.
Ketika kanak-kanak hingga usiaku menginjak 13 tahun aku tinggal bersama nenek dan kakek pihak ibuku serta tumbuh dalam lingkungan yang cukup agamis. Meski aku tidak berjilbab, aku relative taat dalam beribadah dan selalu berusaha munjauhi larangan Alloh SWT. Aku dididik di tengah keluarga yang sangat patuh agama terutama kekak dan nenenkku. Hanya ada satu masalah, yaitu orangtuaku. Semenjak kecil aku tak dalam asuhan mereka, ini membuat aku iri dengan kawan-kawanku yang lain. Kondisi ini membuatku sulit meningkatkan kualitas imanku.
Ketika memasuki Sekolah Menengah Atas, aku pindah asuh bersama nenek dan kakek pihak bapak, disamping di daerah aku kecil daerahnya terbilang terpencil “leuweung” sehingga sekolah-sekolahan yang tersedia hanya tingkat SMP itu pun harus ku tempuh KM 3,5, tambah lagi hidupku bagai tinggal sebatangkara karena nenek dan kakekku telah di panggil Yang Maha Kuasa.
Di daerah baruku yang terbilang ramai alias pinggir kota rada legok dikit, aku tercengang melihat betapa bebasnya pergaulan disana. Laki-laki dan perempuan bercampur tanpa batas, hal yang dianggap tabu/pamali sudah tak terkendali, mereka anggap maksiat adalah hal biasa sudah mempublish. Maka, terjadilah konflik bathin dalam diriku.
Meski kemudian dengan seiring berlalunya waktu, aku justru mulai merasa dekat dan menaruh simpatik pada seorang pemuda, dan ternyata rasa itru berbalas. Akhirnya, kami saling mengungkapkan isi hati pada suatu waktu. Saat itu, demi menjaga harga diri, ku coba memberikan pengertian kepadanya bahwa perasaan semacam ini sebenarnya dilarang oleh agama. Untuk itu, kami pun sepakat menjaga hubungan agar jangan sampai melanggar batas. Salah satu caranya adalah dengan berbicara lewat telpon, meski harus ku lakukan dengan mencari-cari kesempatan saat rumah kosong, atau berpura-pura sedang berbicara dengan teman perempuanku jika kepergok.
Tanpa kami sadari, hubungan lewat telpon itu berkembang menjadi rasa ingin jalan bersama. Kamipun memberanikan diri untuk kelur berduaan, meski tahu bahwa jika laki-laki dan perempuan sengaja pergi berdua ketempat yang sepi, maka yang ketiga adalah setan.
Sedikit demi sedikit, aku mulai melanggar batas. Hingga akhirnya aku merasa tertekan dan berdosa lalu mengambil keputusan yang sangat menyakitkan. Kami putus. Aku menjauhinya dan dia meninggalkan aku. Tapi sebagai akibat, aku malah mengalami shock berat, karena cintaku yang dalam padanya, sebagaimana sebaliknya. Tak hanya itu, aku juga didera rasa takut jika ajalku tiba-tiba menjemput, menghadap Alloh SWT dalam kondisi penuh dosa seperti ini. Apa yang harus aku katakan kepada-Nya?
Hingga suatu hari dalam acara sujud syukur atas kelulusanku dari SMA di mesjid sekolahku. Disana, aku betul-betul dengan khusuk mengikutinya dan tiba-tiba ku rasakan kedekatan itu. Sebuah kedekatan kepada Alloh SWT yang menelusup kedalam sanubari, seperti aliran yang aneh namun nyaman. Kulihat orang-orang disekelilingku merasakan hal yang sama. Aku pun tersadar, ada banyak hal yang mesti aku lakukan dalam hidup ini, dan aku benar-benar menyesali sekian banyak kesalahanku yang telah lalu- namu n aku yakin Alloh Maha Pengampun. Saat itu juga, aku rasakan cinta yang begitu dalam terhadap-Nya.
Sejak kejadian tersebut, aku mulai berusaha sekuat tenaga untuk taat beribadah, dan mempersiapkan diri menyambut ajal. Sesungguhnya, betapa tenang hatiku ketika berada didekat-Nya karena Dia selalu melimpahkan kebaikan-Nya bagi diriku. Dialah Cinta Sejatiku.

Kamis, 15 Oktober 2009

'sweet dream'

Curhat.....Curhat.....Curhat....."
Aku masih seperti kemarin, hari ini, dan ntah bagaimana selanjutnya i don't know !
Si Bodoh indah masih selalu bermimpi, mimpi yang aku yakini ini bukanlah sekedar mimpi belaka, sampai titik darah penghabisan perjuangan itu takan pernah aku akhiri dengan kata "MENYERAH"....
aku tak bermimpi menjadi orang terkaya di negeriku, aku tak bermimpi jadi pemimpin bahkan orang nomor satu di negeriku, kau tak pernah bermimpi jadi tuan putri dalam dongeng cinderlla..... yang aku mau adalah aku ingin jadi diriku sendiri yang selalu ingin dalam kesibukan yang bermanfaat, aku ingin menjadi seorang yang dapat membantu orang banyak. aku bermimpi menjadi seorang dokter "sweet dream" Dasar Bego, Bodoh, modal apa yang aku punya? uang kagak ada? otak pas-pasan? modal nyali kaleee..???" yaaaa.. aku hanya bermodalkan keinginan untuk mencapainya, kenapa tidak? toh pepatah mengatakan" banyak jalan menuju roma" akh jauh tuing....
akhhhh...mimpi itu terlalu tinggi buatku dan itu malah membuatku bukan bersemangat melainkan terus terbelenggu dalam ketidakberdayaan. guru? hmmm... tugas mulia, mencerdaskan anak bangsa dari kebodohan, lagi-lagi aku harus menelan kekecewaan pahit sebagai posisi diriku, modal? uangkah yang harus aku pertaruhkan untuk mencapainay? bukan? tapi restu orangtua, aku mendambakan restu mereka, memberi dukungan agar aku dapat mencapinya, inilah diriku dalam kekuranganku dalam kebodohanku dan dalam ketidakberdayaanku... tapi aku yakin "sweet dream" bukanlah mimpi belaka....
semangatlah indah jelek, Si Bodoh punya mimpi,,,,!!!!!!
planning yang telah aku rakit menjadi sebuah agenda kini bukanlah "the end" melainkan pending yaaa...aku masih punya 98% semangat dalam hatiku sisanay rapuh karena termakan pedihnya aku yang sering kali mendapat celaan kalo ini gak mungkin aku capai"... aku terlalu cengeng........tapi aku masih kuat......"
hahahhaa....Si Bodoh punya mimpi itulah julukan ku....."

Sabtu, 10 Oktober 2009

" Terlambatkah Aku"

Ntah tanggal berapa aku memulai merangkai kisah ini, awal kisahnya seorang wanita paruh baya yang usianya tak jauh denganku menghampiriku di tempat aku bekerja sekarang, dia memperkenalkan dirinya "Fauziah" dan mengajakku untuk berbincang-bincang, aku tertarik akan busananya yang agamis dan muslimah, aku tertarik akan kepandaianny tentang akidah, aku yang hobi dengan berbagai macam seminar dan diskusi aku merasa tergugah untuk tau lebih jauh tentang akidah dan agamaku sendiri...
Suatu ketika dia datang kembali ke tempat kerjaku namun bukan seorang diri melainkan ber 2 "Asiah", ajakan mereka untuk berteman denganku aku terima dengan terbuka, aku pikir inilah kesempatanku untuk tau tentang universitas di kotaku karena kebetulan mereka-mereka adalah seorang mahasiswa fakultas tarbiyyah.
Untuk yang ke-3 kali nya mereka datang kembali di tempat biasa kami bertemu, awalnya aku cerita-cerita, aku curhat tentang pengalamanku, mereka pun begitu, lambat laun arahnya menjadi tak mengerti, mereka berbicara tentang akidah agama dan aku tanpa curiga apa-apa dengan santai berbicara pada mereka, yang ku ingat mereka bercerita tentang seorang pemimpin dalam agama, aku tak mengerti tiba-tiba muncul seorang lelaki yang aku kira dia adalah seorang pembeli namun ternyata bukan. mereka mengatakan setiap orang harus punya pemimpin atau imam, setiap negara punya pemimpin juga, banyak larangan dan aturan dalam mereka, bahkan hak akupun tak diperbolehkan... singkat cerita aku di suruh membacakan ikrar janji pada ALLOH yang akan di tuntun seorang lelaki tadi yang mungkin mereka anggap adalah seorang pemimpin mereka.. aku tak di izinkan tau lebih jauh namun mereka bilang ikrar ini adalah kartu untuk masuk surga, serajin-rajinnya kita beribadah tanpa di bekali kartu ikrar ini maka gugurlah amlmu didunia. aku tak pernah mendngar hal ini, aku menangis dalam kebimbangan, hatiku mengatakan aku tak boleh, namun otakku mengatakan lanjutkanlah ini adalah kesempatanmu untuk mencari info kuliah agar aku bisa kuliah, mimpi yang selalu aku idam-idamkan, mimpi yang bukan hanya sekedar mimpi, mimpi yang akan aku buktikan kelak.. insyaalloh...
Aku pun mengikuti apa yang mereka ucapkan dengan air mataku yang berlinar deras... aku terhimpit, aku berharap ada seorang pembeli yang akan menghalangiku berikrar, semua nihil akupun tenggelam dalam mereka. sekitar 1 jam mereka pun meninggalkan aku denagn wajah bahagia, ntah bahagia karena aku ikut mereka atau bahagia karena kebodohanku.. aku tak tahu...
setelah kejadian itu aku enggan melakukan aktivitas, aku bagai orang hidup tanpa nyawa, aku bergerak buakn sesuai kehendakku seperti ada yang mengontrolku, aku tak bisa tidur, dalam hatiku beribu penyesalan, aku buntu tak tau arah, yaaa aku ingat Ibu Hilmi, guruku sekaligus bundaku, sekaligus segalanya buatku, mungkin melalui beliau akan memberiku petunjuk. setelah idul fitri aku menemuinya, aku ceritakan apa yang terjadi, maka tersentaklah ibu, ibu melarangku untuk ikut pada mereka. ibu menceritakan tetangganya yang meninggal karena sakit hati oleh anaknya yang mengalami hal yang aku ceritakan tadi. ibu berdoa untukku dan memberiku petunjuk untuk mengucapkan "maaf" pada mereka.
Ke-4 kalinya mereka datang kembali menemuiku, aku takut, tapi aku harus berani menyampaikan amanat ibu hilmi untukku, yaaa betapa payahnya diriku, lagi-lagi aku harus bentrok dengan hbatinku, aku menangis tanpa alasan, apa yang terjadi..??? mereka yang datang dengan jumlah yang banyak, aku gugup, aku takut....
mereka banyak mengatur tentang aku, aku harus memberi imfak 2.5% dari upahku, bayangkan,,bukanlah imfak itu dengan dasar ikhlas bukan karena paksaan... aku gerah.. aku takut...selalu merasa takuttt...
ingin rasanya pada hari itu aku kabur, ingin rasanya aku kembali ke ciamis, kota tentramku, tapi bu hilmi mengajariku, ibu menuntunku, " namanya manusia tiada henti untuk belajar"..
Terlalu banyak pengalaman yang aku lalui, aku tak tahu arahku kemana, aku berdiri di tepi jurang.. aku masih dalam keadaan takut, lelah, pusing, rumet, tapi aku harus maju, air mata ini terlalu sering berurai, kepahitan, penghianatan,terampas hakku, kecewa, hancur, telah aku telan dengan kerasnay jalanku...
Kisah ini hingga saat ini belum berakhir, belum selesai aku menyampaikan kata "maaf" aku masih dalam sendiri dan ketidak berdayaan.." tolonglah aku......."

Sabtu, 03 Oktober 2009

Kenapa Wanita Menangis Tanpa Alasan

(Kafemuslimah.com)

Seorang anak laki-laki kecil bertanya kepada ibunya “Mengapa engkau menangis?”

“Karena aku seorang wanita”, kata sang ibu kepadanya.

“Aku tidak mengerti”, kata anak itu.

Ibunya hanya memeluknya dan berkata, “Dan kau tak akanpernah mengerti”.

“Kemudian anak laki-laki itu bertanya kepada ayahnya,”Mengapa ibu suka menangis tanpa alasan?”

“Semua wanita menangis tanpa alasan”, hanya itu yang dapat dikatakan oleh ayahnya.

Anak laki-laki kecil itu pun lalu tumbuh menjadi seorang laki-laki dewasa, tetap ingin tahu mengapa wanitamenangis. Akhirnya ia menghubungi Tuhan, dan ia bertanya, “Tuhan, mengapa wanita begitu mudah menangis?”

Tuhan berkata: “Ketika Aku menciptakan seorang wanita, ia diharuskan untuk menjadi seorang yang istimewa. Aku membuat bahunya cukup kuat untuk menopang dunia; namun, harus cukup lembut untuk memberikan kenyamanan “

“Aku memberikannya kekuatan dari dalam untuk mampu melahirkan anak dan menerima penolakan yang seringkali datang dari anak- anaknya “

“Aku memberinya kekerasan untuk membuatnya tetap tegar ketika orang-orang lain menyerah, dan mengasuh keluarganya dengan penderitaan dan kelelahan tanpa mengeluh “

“Aku memberinya kepekaan untuk mencintai anak-anaknya dalam setiap keadaan, bahkan ketika anaknya bersikap sangat menyakiti hatinya “

“Aku memberinya kekuatan untuk mendukung suaminya dalam kegagalannya dan melengkapi dengan tulang rusuk suaminya untuk melindungi hatinya “

“Aku memberinya kebijaksanaan untuk mengetahui bahwa seorang suami yang baik takkan pernah menyakiti isterinya, tetapi kadang menguji kekuatannya dan ketetapan hatinya untuk berada disisi suaminya tanpa ragu”

“Dan akhirnya, Aku memberinya air mata untuk diteteskan. Ini adalah khusus miliknya untuk digunakan kapan pun ia butuhkan.”

“Kau tahu: Kecantikan seorang wanita bukanlah dari pakaian yang dikenakannya, sosok yang ia tampilkan, atau bagaimana ia menyisir rambutnya.”

“Kecantikan seorang wanita harus dilihat dari matanya, karena itulah pintu hatinya – tempat dimana cinta itu ada.”

Jumat, 02 Oktober 2009

"SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1430H"

Kamis, 01 Oktober 2009

'si jelek"

lutchu, ketawa geli ku...jhahaha....
tapi ini nyata yang aku alami sekarang-sekarang ini, aku jatuh cinta sebelum aku tahu tampang, rupa, serta ID lainnya pada dirinya, tapi dia adalah kekasihku, yang ku panggil "si jelek".
sebelum aku melihat dirinya di depan mataku, aku tak yakin bahwa dia akan mencintai aku apa adanya. lagipula awalnya aku hanya iseng-iseng, toh dia juga menganggap ini cuma permainan.
setelah aku benar-benar melihat dirinya berdiri tegap didepan mataku dengan jaket putih dan ransel hitam dipundaknya, subhanallah, Engkau mengirimkan sesosok pria sholeh untukku. Terimakasih ya Alloh, ucapku dalam hati... dia tersenyum lepas di pandangaku...
serangkai cerita melelahkan yang ku jalani, aku tak ingin sekit hati lagi, aku tak ingin patah hati lagi, aku yakin dia pilihan terakhirku, aku yakin dia obat luka hatiku, perjalanan pahit yang acap kali aku lalui menuntunku untuk menjadi lebih dewasa menyikapi hal ini, aku tak boleh terburu-buru tapi yakin dialah pendamping hidupku, tapi hati ini menitikan air mata dan yakin dialah orang yang Alloh kirimkan untukku. insyaalloh......
"si jelek" kupanggil dia begitu, dia telah menjadikan hari-hariku menjadi lebih tersenyum.
aku tak pernah bermuluk-muluk, harta bukan segalanya, walawpun seorang peng-import ikan mas*, walawpun seorang yang bermobil banyak*,lulusan perguruan tinggi ternama*, aku tak pernah pandang itu, yang ku ingin adalah "hasil kebersamaan", cintaku takan tergantikan dengan uang atau kekayaan.(* maaf bagi pembaca yang merasa tersinggung).
perih memang, andai memang aku seorang hartawan, dengan kata pedasku dan kata kasarku "aku tak hiraukan itu".
alhamdulillah dari masa pahitku itu aku bisa ambil hikmahnya, dan buah dari hikmah itu adalah mensyukuri nikmat-Nya.
walaupun dia bukan kekasih pertamaku tapi semoga "si jelek" adalah pendamping hidupku hingga akhir hayatku. aminn..."

Senin, 22 Juni 2009

Cinta semangat ‘45
Mungkin kisah ini seharusnya dimulai saat aku melihatnya pertama kali. Maksudku dengan arti khusus, melihat ketampanannya luar-dalamnya dan sadar bahwa aku mencintainya. Mungkin.
Aku akan mulai cerita ini pada sebuah hari yang kelewat cerah, ketika itu aku sedang berstudy tour ke yogyakarta. Aku yang acapkali mondar-mandir di lingkungan hotel musyafira, tak sengaja disapa oleh seorang pria yang memiliki semangat ‘45 yang tinggi. Seorang didikan alam yang jenius.
aku sudah mengenalnya satu tahun yang lalu, dia adalah sumber inspirasiku. Pada saat itu diriku, disampingnya, sedang memperhatikan diam-diam dengan sudut mataku. Wajahku sedang merah saat itu, dan bukan hanya karena ac di ruangan kurang dingin. Aku malu, teman-teman. Aku merasa tak pantas mendapatkannya.
Alasanku? Alasan paling utama adalah kelebihannya; dia seorang aktivis pergurun tinggi negri dijogja seorang mahasiswa, wajahnya, hatinya, pikirannya. wajarlah dia menjadi idaman wanita normal dikampusnya. Sedangkan pada hari itu tanpa aku bermimpi aku telah bertukaran nomer handphon dengannya, bahagianya aku saat itu. Dalam waktu singkat aku memasuki dunianya.
Hmm. Mungkin ‘kencan’ adalah kata yang terlampau ekstrim untuk ini. Ya, aku telah berhasil keluar dengannya, tetapi kami jelas belum menjadi sesuatu yang lebih dari teman’ tadi. Lagipula, tempat yang dipilih untuk kencan sedikit abnormal; masakan kencan bawa teman-teman dilingkungan mesjid pula?
“Neng Indah..?” panggilnya, “kok ngelamun terus dari tadi?”
Aduh. Ssori,” gagapku. Dalam hatiku mengutuk diriku. Masa iya, setelah berhasil keluar dengan sang pangeran dalam cerita “Cinderella” ini hanya bengong yang dapat kulakukan? Jika teman-temanku tau, tawa mereka akan terdengar sampai monas….
“Allohuakbar…Allohuakbar…” suara adzan di mesjid memecah keheningan kami, pada saat itu kami berada di area parkir mesjid agung.
“sudah waktunya buka puasa ni..!!” ujarnya sambil menyodoriku dompet miliknya yang berisikan uang untuk beli air mineral sebagai syarat berbuka puasa kami.
Orang-orang berlalu lalang mencari tempat untuk berbuka puasa sedangkan kami dengan santainya duduk dan meneguk sebotol air mineral.
Belum ada topic pembicarakan diantara kami, aku masih dengan gayaku yang pemalu dan diam. Sesekali dia bertanya, aku hanya menjawab dengan singkatnya padahal kami hanya berdua saja yang lain ntahlah aku ta menghiraukannya.Ya, sang pangeran terdiam. Menunggu….
Menunggu aku berbicara?
Ah, bodohnya aku ini… Jelas saja, atas nama kesopanan, ia menunggu aku berbicara. Tapi apa yang harus aku ucapkan? Aduh Indah PS,, katkan sesuatu! Katakana apa saja!
“Eh,” kataku, “kapan kejogja lagi?”
sang pangeran tersenyum kecil, “baru juga datang dari jogja, udah ditanya kapan ke jogja lagi, ngusir ni ceritanya..??” katanya dengan canda khasnya…
“ Oh, oh ya, nggak bukan gitu” kataku bodoh, Bego, Tulalit, kata suara hatiku, apa gak ada bahan pembicaran lain? Pulang ke jogja lagi. Romantis banget, Indah PS; lo memang cewek aneh, gimana mau punya pacar yang punya semangat ’45; ngawurnya lebih banyak dari benernya! Dasar onta riuet..!!!
setelah kami menghabiskan se-botol air mineral, dia mengajakku ke mesjid untuk melaksanakan sholat berjama’ah setelah itu kita buka puasa bersama.
Karena jatah waktuku untuk berkeliaran main udah selesai hanya sampai batas adzan magrib, aku harus ada di rumah persis cerita Cinderella yang habis waktunya untuk berdansa dengan sang pangeran tepat tengng.. jam 12 malam, to tuit..!! so sweet. Akupun berpamit pulang kepadanya.
“Hmm.. mungkin lain waktu saja, waktuku diluar rumah sudah selesai, nanti kabari aku kalo ada sesuatu” ucapku memendam rasa malu yang amat dasyat.. gile bener..
“ aku antarkan pulang bagaimana? Tapi kita buka puasa dulu disini, aku gak enak loh orang aku yang ngajak.” Ucapnya sopan. “ Tapi ya sudahlah, mingkin lain kali pasti bisa kan..!! “ insyaalloh” jawabku
Aku pun berlalu mengabaikan pandangannya, aku bahagia tapi aku ragu apakah aku ini pantas menjadi sosok wanita disampinnya, akh… lagi-lagi aku terlalu tenggelam dalam khayalan.
Malam hari nya sekitar pukul 22;42 dia menghubungiku kalau dia akan kembali ke kampus.. Hmm.. lagi-lagi aku su’udzan dan mengutuk diriku,” aku anak SMA baru kelas xi, gak mungkinlah dia menyukai aku yang amnja, pendiam, pengetahuannya masih dangkal cantik yah..relatiflah wanita..” hmm.. aku benci memaki-maki diriku yang terlihat amat bodoh.
Malam takbiran Idul Fitri pun tiba dia mengabari aku kalau dia sudah kembali lagi ke ciamis dan sekarang dia sedang berkumpul dengan keluarganya di Langkaplancar.
“Assalamualaikum neng indah !! selamat Hari Raya Idul Fitri Mohon Maaf Lahir dan Bathin, sampaikan salam buat keluarga disana” ucapnya dalam telpon.
“Waalaikumssalam, iya saya sampaikan” jawabku. Pembicaraan kami amat lama kami menceritakan berbagai hal, dari segi agama, pengalaman hidup, dsb.
Ntah kapan aku lupa waktunya, dia datang ke rumahku yang butut, dia menemui kedua orangtuaku. Singkat cerita.
Hari jumat tepat 10 oktober 2008
“ neng,” bisiknya, “ tutuplah matamu.” Dia menutup matanya dan akupun mengikutinya.
Syaraf di belakang mataku terlihat jelas, merah, berdenyut karena tekanan bathin, Aku gemetar. Kenapa aku ini?
“ kamu belum tenang,” kata sang pangeran,
mungkin. Aku bernapas pelan, pelan dan dalam. Tenang. Aku tenang. Dan dunia pun diam, kecuali suara jantungku yang berdenyut kuat, dan suara napas sang pangeran…
“ neng indah,” katanya,”Rasakanlah.”
“Rasakan apa,” bisikku, tak mampu untuk bernada Tanya.
“Rasakanlah cinta disekeliling dirimu,” katanya pelan.
“Cinta?” Apa maksudnya?
“Cinta ada di sini,”katanya. “ Dimana ciptaan Tuhan berada, berkumpul. Cinta ada…” –aku bisa merasakan senyumnya dari suaranya- “…karena cinta adalah sifat Sang Pencipta yang diturunkan ke yang dicipta…”
Dan aku merasakannya. Sedikit, tapi ada. Tapi sedikit sekali, seakan dapat hilang kapan saja…
“…kuatkanlah cinta ini dengan cintamu… cinta mereka adalah cintamu..”
Mereka?
Dan aku merasakannya. Perasaan yang mengikuti setiap orang dan setiap benda, perasaan indah yang menyelimuti suasana hatiku, cinta yang memeluk ciamis dan seluruh warganya….
“Cinta tak akan ada di malam yang sepi, di restoran yang gelap, di kamar yang kosong. Cinta tak akan ada di belakang pintu yang tertutup. Tapi…” –ia memelankan suaranya- Cinta ada di sini..”
“ Dan aku cinta kamu,” bisiknya, tanpa kusadari lalu terkejut sendiri aku cintamu.

Jangan jatuh cinta? Bulsyit gak sich…?

Dari pada Cuma sebentar,
Dari pada cuma bikin bete,
Jangan buru-buru jatuh cinta !
Tahan brow, kita simak berikut ini..”


Jatuh cinta punya jutaan rasa. Bisa bikin hari-hari jadi serba pink, penuh bunga, tapi juga bisa bikin hati mengharu-hijau, he..he.. my colour gitu loh…
Bisa bikin kita tambah rajin melakukan sesuatu walaupun sesuatu itu paling yang kita benci, pokoke serasa hidup ini milik berdua atas nama cinta kali ya..
Nah biar jatuh cinta kita lebih banyak happynya dari pada betenya, hindari jatuh cinta KALAU :


Doi playboy

Semua cewek disekolah pernah jadi pacarnya dan sekarang cintanya jatuh pada kita. Sebelum merasa bangga, coba cari tahu kanan-kiri, kenapa doi begitu suka gonta-ganti pacar. Nggak mau kan seminggu jadian udah patah hati?
Kalo tau sich mendingan kita tanya-tanya sama musuhnya, kalo sama temen deketnya pasti gak mungkin lah membeberkan kejelekannya, yang ada kita malah terus melambung di dunia bangga.

Baru aja patah hati

Kalo begini yang terjadi pasti cuma “ jatuh cinta-jatuh cintaan” aja.
Bukan cinta beneran. Kalo kata paling kasar “ cari pelampiasan kali yaa..”
Percaya dech, saat begini kita lebih butuh sahabat yang mau mendengar keluh kesah kita dibandingkan seorang pacar baru yang pasti bete banget mendengar kisah hancurnya hubungan cinta kita. Mau kalo berantakan lagi…? Makan ati lagi..? kalo aku sich ogah buanget..!!
Sahabat yang asyik selalu bikin kita happy karena bisa membuat kita bebas menjadi diri sendiri. Nggak ragu-ragu berbagi apapun dengannya dan cerita apa aja yang melintas di kepala kita tanpa takut dianggap koyol.

Panas liat doi

Baru juga udahan seminggu misalnya, e..doi udah punya gandengan baru. Uu…uh panas hati ni. Rasanya pengen cepet-cepet ganti si doi juga. Sebelum mencari “target” baru. Coba tenangkan hati dulu. Jangan-jangan kita Cuma sirik bin cembokur aja sama tu cewek baru si doi.
Cari kesibukan lain selain menangisi kepergian doi atau doi punya pacar lagi, itu akan menjatuhkan kamu dan terlihat amat isrof.
Sifat seperti itu memang manusiawi.
Bersikap dewasa dan mencoba menjadi lebih baik itu poin yang sangat penting.



Yang penting punya cowok

Semua orang punya cowok kecuali kita. Rasanya kok gak laku amat. Seberapapun “ sulitnya” situasi ini, jangan pernah jatuh cinta dengan alasan “ dari pada nggak ada”. Selain menyiksa diri, nggak adil juga dong sama si doi baru. Yang ada kalo ketauan bisa jadi kacau..


Doi bekas pacar temen

Biarpun sudah putus, nge-date sama pacar temen cuma akan bikin hubungan pertemanan kita berantakan. Toh, masih banyak ikan dilaut. Cari aja yang lain.

Mencobalah pada hal-hal baru dan jangan hiraukan gesir angina yang akan menghantam kita
Jangan hiraukan badai yang akan memporak-porandakan cita-cita kita bukan karena cinta pada doi, tapi karena cinta kita pada illahi.


Kreativitas kita sebagai umat Nabi Muhammad saw. Ditantang untuk memunculkan berbagai bentuk aktivitas yang tak henti-hentinya dan tak bosan-bosannya merangkai bentuk amal sholih yang sudah di tunjukkan oleh Al Qur’an dan sunnah Rasululloh saw.
Wallahua’lam!
Aku punya mimpi, Bunda
Karya : indah purnamasari

Aku gadis desa yang berselimutkan kepedihan
Aku gadis desa yang meneguk pahitnya penderitaan
Aku gadis desa bermandikan air mata
Aku punya mimpi

Dalam ke tak berdayaan aku bergurau
Aku tak mungkin menggapainya
Dalam tangisan terucap aku harus bisa
Dalam pelukan bunda
Aku punya cita-cita

Aku menikmati tangis piluku
Disana ada cahaya mimpiku
Disana ada percikan sebuah harapan
Disana ada jalan terangmenuju mimpiku

Ku pandangi butiran air mata bunda
Tampak kebimbangan dan kepedihan
Majukah aku?
Mundurkah aku?

Aku merasakan pahit getirnya jalanku
Entah sudah berapa kali air mataku membanjiri
Demi bundaku yang menahan perih
Aku punya mimpi

Bunda akulah tunasmu
Aku yang akan tumbuh dan melindungimu
Aku yang akan menggantikan tangismu dengan tawaku
Aku ada, bangkit dalam do’amu, bunda
Jangan hiraukan gesir angin gersang yang menghantam kita
Jangan hiraukan badai yang kan memporak porandakan mimpi kita
Do’amu obat segala rintangnku
Bundaku penerang jalanku

Ketegaran hati mu melebihi karang di lautan
Kehangatan kasih sayangmu melebihi terik sang mentari
Do’mu mengiringi langkahku
Aku punya mimpi, Bunda


puisiku...

Mimpi Tertunda
Karya : indah purnamasari

Aku merasa diri ini kalah
Dalam sunyi aku menangis, tersungkur dalam ke tak berdayaan
Mengingat hari yang berubah kelam
Mimpiku hanya tertunda
Mimpiku lambat tapi pasti
Aku yakini itu


Ntah apa yang terjadi
Kisah-kisah yang ku tulis dengan tinta tawa
Terhapus dengan tangis mengaung
Antara gedung kaca


Kakiku tetap tegak berjalan
Semangatku akan tetap membara
Mencari arah menuju kebahagiaan
Dan kakiku akan tetap tegak berjalan
Meninggalkan segala penderitaan
Menuju mimpiku yang tertunda


Aku tahu
Aku bertopengkan kemenangan
Aku berselimutkan tawa kebahagian
Tapi kenyataan tak bisa dipungkiri
Mimpi ini tertunda


Jumat, 20 Maret 2009

WAHAI DIRIKU

apa yang kau cari wahai diriku?
bukankah sudah banyak nikmat yang ditampakan
bukankah sudah banyak pelajaran diajarkan
bukankah sudah banyak kegelisahan dihiburkan
bukankah sudah banyak keraguan yang dinyatakan

apa lagi yang kau harapkan wahai nafsuku?
bukankah sudah begitu banyak kesia-siaan kau tawarkan
bukankah sudah banyak celah kemaksiatan kau longgarkan
bukankah sudah begitu banyak keraguan kau persembahkan
bukankah sudah begitu banyak kegelapan kau hamparkan

siapakah sesungguhnya engkau wahai diriku?
kau diberikan amanat namun tidak kau amalkan
kau diberikan kepercayaan namun kau sia-siakan
kau diberikan kesempatan namun kau hambur-hamburkan

terlalu banyak kata-kata yang terhambur mubadzirkan
terlalu banyak penungguan yang meninabobokan
terlalu banyak istirahat yang mengeroposkan

kesunyian yang diberikan kepadamu tidaklah kau iringi dengan kefanaan
namun kau isi dengan pengharapan dan penyesalan

begitu banyak kenikmatan kau anggap sebagai kehinaan
begitu banyak kesempatan kau anggap sebagai kesempitan
begitu banyak keuntungan kau anggap sebagai kerugian

wahai diri yang memiliki nafsu
apa yang kau inginkan?
gelombang arus mana yang akan kau tempuh?
ataukah kau akan biarkan arus yang membawamu?

ribuan riak arus telah kau tempuh
ribuan kesegaran pula telah terhembus
ribuan kedinginan pun telah menggigilkan tiang kesabaranmu

wahai diri
......

~astaghfirullaah...

Romantika Aktivis Dakwah

Sobat muda muslim, kalo mengamati pergaulan para aktivis dakwah mungkin ada beberapa pertanyaan yang mampir di benak kita. Apalagi keseharian mereka yang gaul ama sesamanya. Cewek ama cewek. Cowok ama cowok. Kesannya antilawan jenis banget. Apa mereka steril dari rasa cinta? Apa yang ada dalam benak mereka cuma dakwah doang? Apa menjadi aktivis dakwah kudu punya antivirus untuk menghadang VMJ? Apa-apanya dong?eh, kok jadi lagu sih?

Nggak usah dibikin pusing, sampe nyanyiin lagu Nek Titik Puspa gitu. Para aktivis dakwah itu sama aja kayak kita. Sejenis manusia yang punya rasa cinta. Cuma bedanya, mereka nggak show of forces untuk urusan ini. Apalagi sampe deklarasi segala di acara reality show Katakan Cinta atau Playboy Kabel. Nggak lah yauw. Mereka punya prinsip yang bagi sebagian orang terdengar ?aneh? dalam hal pengungkapan rasa cinta. Anti-pacaran en nggak phobi ama nikah dini. Catet ya!

Nah, masalah-nya, kita sering bertanya-tanya, gimana mung-kin bisa terjalin rasa cinta di antara mere-ka kalo mereka sendiri anti-gaul bebas. Bukankah gaul bebas itu terbukti menjadi media subur untuk memupuk rasa cinta kepada lawan jenis? Eit, jangan salah. Nggak gaul bebas bukan berarti nggak berinteraksi dengan lawan jenis. Emangnya penghuni dunia dakwah cuma satu jenis? Tetep, aktivitas dakwah juga meng-haruskan mereka berhubungan dengan lawan jenis. Apalagi yang tergabung dalam sebuah organisasi. Kudu ada konsolidasi dakwah. Inget-inget tuh!

Sebagai aktivis dakwah, tentu konsolidasi itu mengharuskan pihak ikhwan (muslim) menjalin kerjasama dengan para anggota ?diva? alias divisi akhwat (muslimah). Saling tukar informasi. Rapat bulanan untuk evaluasi kinerja dakwah sekaligus planning untuk masa mendatang. Sampe tergabung dalam kepani-tiaan acara. Dan nggak mungkin kegiatan kayak di atas dilakukan tanpa adanya pertemuan. Walau mungkin rapat bisa aja pake fasilitas teleconference. Tapi itu pasti bakal menyedot banyak biaya. Bisa-bisa acaranya nggak jadi digelar gara-gara nggak ada biaya. Berabe kan?

Nah, dari seringnya pertemuan itulah bisa menyita perhatian khusus antar aktivis. Meski nggak terungkap, VMJ tengah mengamati mangsa yang hendak diburu. Satu sama lain saling menyimpan rasa kagum. Dari sinilah tumbuh perasaan simpati, empati, yang seterusnya bisa bikin jatuh hati. Walau hanya tersimpan rapi dalam diary atau menghiasi relung hati. Intinya, malu-malu tapi mau!

Proses tumbuh dan mewabahnya VMJ di kalangan aktivis, nggak jauh beda dengan ?cilok? ala seleb. Cinta bersemi saat aktif dalam dakwah. Makanya kita nggak usah ragu bin worried untuk jadi seorang aktivis dakwah. Pergaulan mereka yang terkesan anti-lawan jenis, hanya salah satu cara buat nunjukkin kalo Islam juga punya aturan maen dalam pergaulan. Justru kita kudu bangga jadi aktivis. Karena untuk urusan jodoh, Allah bakal ngasih pasangan hidup yang ?qualified? buat para aktivis pengemban dakwah yang istiqomah.

Firman Allah Swt: Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang (baik) pula.? (QS an-Nûr [24]: 26)

Mengendalikan rasa cinta

Sobat muda muslim, nggak salah kalo cinta bisa mendera siapa aja. Termasuk para aktivis dakwah. Tapi tetep kita kudu waspada ama VMJ ini. Soalnya orang bisa berubah karena kasmaran. Yang pasti nggak berubah jadi Ksatria Baja Hitam. Tapi perubahan yang lambat laun nampak dalam diri kita. Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam bukunya Raudhah al-Muhibbin wa Nuzhah al-Musytaqin menuliskan komentar sejumlah orang tentang pengaruh cinta dalam kehidupan seseorang.

Di antaranya sebagai berikut: ?Cinta itu bisa menyucikan akal, mengenyahkan kekhawatiran, mendorong untuk berpakaian rapi, makan yang baik-baik, memelihara akhlak yang mulia, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, serta menjaga adab dan kepribadian. Tapi cinta juga merupakan ujian bagi orang-orang yang shaleh dan cobaan bagi yang ahli ibadah?.

Nah, lho? Ternyata cinta bukan cuma Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki seperti kata Sheila On Tujuh. Tapi juga merupakan ujian sekaligus cobaan buat orang shaleh, ahli ibadah, termasuk aktivis dakwah. Kok bisa? Iya, karena cinta nggak cuma bisa mengubah pe-nampilan aja. Dia juga bisa membelokkan niat yang udah lurus. Komitmen dakwah bisa berubah. Aktivitas dakwah yang awalnya diniatkan untuk mendapat ridho Allah bisa terkontaminasi saat VMJ meradang. Ini yang kudu diwaspadai.

Tentu kita nggak pengen dong, aktivitas dakwah kita yang mulia jadi kacau-beliau gara-gara kita terpana pesona cinta. Makanya kita kudu pandai mengendalikan rasa itu. Seperti kata dokter, mencegah lebih baik daripada mengobati. Untuk urusan cinta juga sama. Lebih baik kita mencegah aktivitas yang bikin VMJ meradang. Ada dua hal yang bisa kita jalanin sebagai langkah pencegahan (kayak 3M DBD aja neh!).

Pertama, dari dalam diri kita. Di sini kita kuatkan benteng pertahanan dari serangan rasa cinta yang membabi buta. Caranya, rajin puasa sunat. Rasulullah menganjurkan pemuda-pemudi untuk berpuasa sebagai satu perisai takwa. Perbanyak membaca al-Qur?an, shalat tahajjud, dan berdzikir kepada Allah saat godaan itu datang. Perbanyak juga doa kita kepada Allah. Minta kepada-Nya biar kita dijauhin dari perbuatan yang haram, minta juga kepada-Nya biar kita dikasih jodoh yang qualified dunia-akhirat. Mau dong?

Kedua, dari luar diri kita. Ini juga nggak kalah pentingnya. Faktor ling-kungan gampang banget meluluhlantakkan pertahanan yang kita bangun. Itu sebabnya, kita kudu bisa menata lingkungan sekitar kita. Misalnya, memini-malisasi pertemuan dan komunikasi dengan lawan jenis. Walau itu untuk konsolidasi dakwah. Sorry, bukannya mo ngerecokin, cuma kita khawatir, jiwa muda kita tak kuasa meredam gejolak rasa cinta itu. Kita juga bisa gaul ama temen-teman yang bisanya nggak cuma manas-manasin doang. Tapi mampu membantu kita menjaga izzah alias harga diri. Sehingga kita bisa belajar menundukkan pandangan. Baik terhadap para ?macan? (makhluk cantik) mau pun terhadap media ?syerem? yang bisa memacu adrenalin kita.

Kita kudu nyadar kalo seorang aktivis dakwah sering jadi panutan dan teladan bagi orang lain. Nggak cuma Allah yang mengawasi tiap omongan ama tingkah lakunya, tapi juga umat. Gimana jadinya kalo pas ngisi pengajian begitu bersemangat bilang pacaran itu haram. Tapi, pas doi lagi kasmaran, perilakunya nggak beda ama aktivis pacaran. Apalagi pake ngeles dengan istilah ?pacaran islami?. Idiih?malu ama umat tuh! Firman Allah Swt: ?Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (QS ash-Shaf [61]: 3)

Menentukan prioritas

Sobat muda muslim, kalo kamu udah bisa atau minimal lagi belajar mengendalikan rasa cinta, sekarang kamu udah pantes buat belajar menentukan prioritas. Karena untuk urusan ekspresi cinta, Islam cuma mengatur dua tahap. Khitbah dan nikah. Nggak ada lagi. Masalahnya, kadang para aktivis dakwah yang mayori-tas pelajar terbentur dengan banyak hal sampe kerepotan memilih satu di antara dua pilihan itu. Kalo pun ada yang berani, lebih didominasi faktor emosi. Bisa jadi was-was sang target ?disamber? duluan ama yang laen (Emangnya bis kota maen serobot?)

Kalo mau khitbah dulu, kecil kemungkinan bisa bertahan sampe kamu lulus sekolah atau kuliah terus dapet kerja. Bawaannya pasti pengen segera ijab qabul. Padahal, segala kebutuhan keuangan masih disubsidi penuh ama ortu. Bakal berabe ke depannya. Perhatian kamu bakal terpecah. Antara beresin kuliah atau matengin rencana nikah. Bisa-bisa nggak optimal dua-duanya. Padahal kehidupan rumah tangga bakal menuntut suami untuk mencari nafkah materi. Nggak cuma bermodalkan cinta. Sementara ijazah pendidikan pun adakalanya punya peranan bagi sang suami demi mem-peroleh nafkah.

Nah, kalo udah gini bagusnya kita pusatkan perhatian pada aktivitas tholabul ?ilmi yang lagi digeluti. Biar masa depan juga terbingkai dengan rapi. Tapi, bukan berarti kita ngelarang kamu mikirin soal nikah lho. Nggak. Silakan aja kalo kamu mau mulai mempelajari soal pernikahan lebih dalam. Karena terpancing ama senior yang bilang nikah itu nikmat, indah dan ibadah, misalnya. Tapi kamu kudu siap hadapi risiko yang bakal menyedot perhatian kamu. Berani ambil risiko? Pikirkan dengan mateng!

Oke deh sobat. Kita percaya kamu-kamu bisa mengambil pilihan dengan bijak. Jangan sampe CBSA bikin aktivitas dakwah kamu kendor. Catet, sekali lagi kita ngingetin, dakwah itu untuk mendapat ridho Ilahi. Bukan karena orang yang dikasihi. Dan jangan takut keduluan, karena jodoh masing-masing nggak akan kelayapan. Oke? Tetap semangat!