Cinta semangat ‘45
Mungkin kisah ini seharusnya dimulai saat aku melihatnya pertama kali. Maksudku dengan arti khusus, melihat ketampanannya luar-dalamnya dan sadar bahwa aku mencintainya. Mungkin.
Aku akan mulai cerita ini pada sebuah hari yang kelewat cerah, ketika itu aku sedang berstudy tour ke yogyakarta. Aku yang acapkali mondar-mandir di lingkungan hotel musyafira, tak sengaja disapa oleh seorang pria yang memiliki semangat ‘45 yang tinggi. Seorang didikan alam yang jenius.
aku sudah mengenalnya satu tahun yang lalu, dia adalah sumber inspirasiku. Pada saat itu diriku, disampingnya, sedang memperhatikan diam-diam dengan sudut mataku. Wajahku sedang merah saat itu, dan bukan hanya karena ac di ruangan kurang dingin. Aku malu, teman-teman. Aku merasa tak pantas mendapatkannya.
Alasanku? Alasan paling utama adalah kelebihannya; dia seorang aktivis pergurun tinggi negri dijogja seorang mahasiswa, wajahnya, hatinya, pikirannya. wajarlah dia menjadi idaman wanita normal dikampusnya. Sedangkan pada hari itu tanpa aku bermimpi aku telah bertukaran nomer handphon dengannya, bahagianya aku saat itu. Dalam waktu singkat aku memasuki dunianya.
Hmm. Mungkin ‘kencan’ adalah kata yang terlampau ekstrim untuk ini. Ya, aku telah berhasil keluar dengannya, tetapi kami jelas belum menjadi sesuatu yang lebih dari teman’ tadi. Lagipula, tempat yang dipilih untuk kencan sedikit abnormal; masakan kencan bawa teman-teman dilingkungan mesjid pula?
“Neng Indah..?” panggilnya, “kok ngelamun terus dari tadi?”
Aduh. Ssori,” gagapku. Dalam hatiku mengutuk diriku. Masa iya, setelah berhasil keluar dengan sang pangeran dalam cerita “Cinderella” ini hanya bengong yang dapat kulakukan? Jika teman-temanku tau, tawa mereka akan terdengar sampai monas….
“Allohuakbar…Allohuakbar…” suara adzan di mesjid memecah keheningan kami, pada saat itu kami berada di area parkir mesjid agung.
“sudah waktunya buka puasa ni..!!” ujarnya sambil menyodoriku dompet miliknya yang berisikan uang untuk beli air mineral sebagai syarat berbuka puasa kami.
Orang-orang berlalu lalang mencari tempat untuk berbuka puasa sedangkan kami dengan santainya duduk dan meneguk sebotol air mineral.
Belum ada topic pembicarakan diantara kami, aku masih dengan gayaku yang pemalu dan diam. Sesekali dia bertanya, aku hanya menjawab dengan singkatnya padahal kami hanya berdua saja yang lain ntahlah aku ta menghiraukannya.Ya, sang pangeran terdiam. Menunggu….
Menunggu aku berbicara?
Ah, bodohnya aku ini… Jelas saja, atas nama kesopanan, ia menunggu aku berbicara. Tapi apa yang harus aku ucapkan? Aduh Indah PS,, katkan sesuatu! Katakana apa saja!
“Eh,” kataku, “kapan kejogja lagi?”
sang pangeran tersenyum kecil, “baru juga datang dari jogja, udah ditanya kapan ke jogja lagi, ngusir ni ceritanya..??” katanya dengan canda khasnya…
“ Oh, oh ya, nggak bukan gitu” kataku bodoh, Bego, Tulalit, kata suara hatiku, apa gak ada bahan pembicaran lain? Pulang ke jogja lagi. Romantis banget, Indah PS; lo memang cewek aneh, gimana mau punya pacar yang punya semangat ’45; ngawurnya lebih banyak dari benernya! Dasar onta riuet..!!!
setelah kami menghabiskan se-botol air mineral, dia mengajakku ke mesjid untuk melaksanakan sholat berjama’ah setelah itu kita buka puasa bersama.
Karena jatah waktuku untuk berkeliaran main udah selesai hanya sampai batas adzan magrib, aku harus ada di rumah persis cerita Cinderella yang habis waktunya untuk berdansa dengan sang pangeran tepat tengng.. jam 12 malam, to tuit..!! so sweet. Akupun berpamit pulang kepadanya.
“Hmm.. mungkin lain waktu saja, waktuku diluar rumah sudah selesai, nanti kabari aku kalo ada sesuatu” ucapku memendam rasa malu yang amat dasyat.. gile bener..
“ aku antarkan pulang bagaimana? Tapi kita buka puasa dulu disini, aku gak enak loh orang aku yang ngajak.” Ucapnya sopan. “ Tapi ya sudahlah, mingkin lain kali pasti bisa kan..!! “ insyaalloh” jawabku
Aku pun berlalu mengabaikan pandangannya, aku bahagia tapi aku ragu apakah aku ini pantas menjadi sosok wanita disampinnya, akh… lagi-lagi aku terlalu tenggelam dalam khayalan.
Malam hari nya sekitar pukul 22;42 dia menghubungiku kalau dia akan kembali ke kampus.. Hmm.. lagi-lagi aku su’udzan dan mengutuk diriku,” aku anak SMA baru kelas xi, gak mungkinlah dia menyukai aku yang amnja, pendiam, pengetahuannya masih dangkal cantik yah..relatiflah wanita..” hmm.. aku benci memaki-maki diriku yang terlihat amat bodoh.
Malam takbiran Idul Fitri pun tiba dia mengabari aku kalau dia sudah kembali lagi ke ciamis dan sekarang dia sedang berkumpul dengan keluarganya di Langkaplancar.
“Assalamualaikum neng indah !! selamat Hari Raya Idul Fitri Mohon Maaf Lahir dan Bathin, sampaikan salam buat keluarga disana” ucapnya dalam telpon.
“Waalaikumssalam, iya saya sampaikan” jawabku. Pembicaraan kami amat lama kami menceritakan berbagai hal, dari segi agama, pengalaman hidup, dsb.
Ntah kapan aku lupa waktunya, dia datang ke rumahku yang butut, dia menemui kedua orangtuaku. Singkat cerita.
Hari jumat tepat 10 oktober 2008
“ neng,” bisiknya, “ tutuplah matamu.” Dia menutup matanya dan akupun mengikutinya.
Syaraf di belakang mataku terlihat jelas, merah, berdenyut karena tekanan bathin, Aku gemetar. Kenapa aku ini?
“ kamu belum tenang,” kata sang pangeran,
mungkin. Aku bernapas pelan, pelan dan dalam. Tenang. Aku tenang. Dan dunia pun diam, kecuali suara jantungku yang berdenyut kuat, dan suara napas sang pangeran…
“ neng indah,” katanya,”Rasakanlah.”
“Rasakan apa,” bisikku, tak mampu untuk bernada Tanya.
“Rasakanlah cinta disekeliling dirimu,” katanya pelan.
“Cinta?” Apa maksudnya?
“Cinta ada di sini,”katanya. “ Dimana ciptaan Tuhan berada, berkumpul. Cinta ada…” –aku bisa merasakan senyumnya dari suaranya- “…karena cinta adalah sifat Sang Pencipta yang diturunkan ke yang dicipta…”
Dan aku merasakannya. Sedikit, tapi ada. Tapi sedikit sekali, seakan dapat hilang kapan saja…
“…kuatkanlah cinta ini dengan cintamu… cinta mereka adalah cintamu..”
Mereka?
Dan aku merasakannya. Perasaan yang mengikuti setiap orang dan setiap benda, perasaan indah yang menyelimuti suasana hatiku, cinta yang memeluk ciamis dan seluruh warganya….
“Cinta tak akan ada di malam yang sepi, di restoran yang gelap, di kamar yang kosong. Cinta tak akan ada di belakang pintu yang tertutup. Tapi…” –ia memelankan suaranya- Cinta ada di sini..”
“ Dan aku cinta kamu,” bisiknya, tanpa kusadari lalu terkejut sendiri aku cintamu.